KOMPOS

Ravika T (J3M119105 / A1)

LNK 56 SV IPB

 

Latar Belakang Pembuatan Kompos

    Salah satu upaya mengoptimalkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman adalah dengan pemberian pupuk kompos. Kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman dan kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Proses pembuatan kompos (komposting) dapat dilakukan dengan cara aerobik maupun anaerobik. Proses pengomposan adalah proses menurunkan C/N bahan organik hingga sama dengan C/N tanah. Keunggulan dari pupuk kompos ini adalah ramah lingkungan, dapat menambah pendapatan peternak dan dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan memperbaiki kerusakan fisik tanah akibat pemakaian pupuk anorganik (kimia) secara berlebihan (Subekti 2015 dalam Ratriyanto A 2019).

    Limbah peternakan dan pertanian, bila tidak dimanfaatkan akan menimbulkan dampak bagi lingkungan berupa pencemaran udara, air dan tanah, menjadi sumber penyakit, dapat memacu peningkatan gas metan dan juga gangguan pada estetika dan kenyamanan (Nenobesi et al. 2017 dalam Ratriyanto A 2019). Oeh karena itu kegiatan ini dilakukan dengan memanfaatkan limbah sekitar menjadi hasil yang bermanfaat

Tujuan

    Membuat kompos dengan bantuan cacing yang kemudian kompos tadi akan diaplikasikan pada tanaman.

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan diantaranya 50 buah cacing, media kotoran sapi, serasah, karung sebagai tempat media.

Cara Kerja

1. Media disiapkan dengan perbandingan kotoran sapi dan serasah 3:1

2. Kemudian cacing dimasukan pada media yang telah disiapkan

3. pH, suhu dan kelembaban diukur setiap harinya

4. pupuk diamati setiap harinya dan diamati perubahan yang terjadi. 

Hasil dan Pembahasan 


Pengomposan yang dilakukan oleh masyarakat biasanya adalah dengan membuang atau menyebarkan sampah organik disekitar tanaman atau lahan, namun proses pengomposan seperti ini tidak efektif dan tidak efisien karena unsur hara yang ada didalam sampah tidak terserap secara maksimal oleh tanaman. Kegiatan membuat kompos di atas terbilang sederhana, hanya menyampurkan kotoran hewan, serasah dam cacing (Mardwita 2019).

Kompos cacing tanah atau terkenal dengan casting yaitu proses pengomposan juga dapat melibatkan organisme makro seperti cacing tanah. Kerjasama antara cacing tanah dengan mikro organisme memberi dampak proses penguraian yang berjalan dengan baik. Walaupun sebagian besar proses penguraian dilakukan mikroorganisme, tetapi kehadiran cacing tanah dapat membantu proses tersebut karena bahan-bahan yang akan diurai oleh mikroorganisme telah diurai lebih dahulu oleh cacing. Dengan demikian, kerja mikroorganisme lebih efektif dan lebih cepat (Warsana 2009).

Hasil dari proses vermikomposting ini berupa casting. Ada juga orang mengatakan bahwa casting merupakan kotoran cacing yang dapat berguna untuk pupuk. Casting ini mengandung partikel-partikel kecil dari bahan organik yang dimakan cacing dan kemudian dikeluarkan lagi. Kandungan casting tergantung pada bahan organik dan jenis cacingnya. Namun umumnya casting mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman seperti nitrogen, fosfor, mineral, vitamin. Karena mengandung unsur hara yang lengkap, apalagi nilai C/N nya kurang dari 20 maka casting dapat digunakan sebagai pupuk (Warsana 2009).

Casting dari proses ini ternyata mengandung komponen biologis dan khemis. Komponen biologis yang terkandung yaitu bakteri, actinonmycetes, jamur, dan zat pengatur tumbuh (giberelin, sitokini dan auksin). Adapun komponen kimianya yaitu pH 6,5 – 7,4, nitrogen 1,1 – 4%, fosfor 0,3 – 3,5%, kalium 0,2 – 2,1%, belerang 0,24 – 0,63%, mangnesium 0,3 – 0,6%, dan besi 0,4 – 1,6% (Warsana 2009).

Karena cacing ini menguraikan kotoran sapi, maka bahan utama untuk casting ini adalah kotoran sapi. Kotoran yang baik untuk dikomposkan kira-kira telah dibiarkan seminggu. Apabila kurang dari seminggu, kotoran terlalu lembab. Namun apa bila terlalu lama maka kotoran terlalu kering (kelembabannya kurang) (Warsana 2009).

Kesimpulan

       Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa membuat kompos dengan bantuan cacing tanah dapat mempercepat proses penguraian bahan organik meskipun utamanya dilakukan oleh mikroorganisme. Hal ini karena unsur-unsur telah lebih dulu diuraikan oleh cacing,kemudian dikeluarkan Kembali, setelahnya diurai oleh mikroorganisme. Kotoran yang baik untuk dikomposkan kira-kira telah dibiarkan seminggu. Apabila kurang dari seminggu, kotoran terlalu lembab. Namun apa bila terlalu lama maka kotoran terlalu kering (kelembabannya kurang).

DAFTAR PUSTAKA

Mardwita, Yusmartini ES, Melani A, Atikah, Ariani D. 2019. Pembuatan Kompos dari Sampah Organik Menjadi Pupuk Cair dan Pupuk Padat Menggunakan Komposter. Jurnal Ilmiaj Pengabdian Kepada Masyarakat. 1 (2) : 80-83

Ratriyanto A, Widyawati S D, Suprayogi W P S, Prastowo S, Widyas N. 2019. Pembuatan Pupuk Organik dari Kotoran Ternak untuk Meningkatkan Produksi Pertanian. Jurnal SEMAR. 8 (1) : 9-13

Warsana. 2009. Kompos Cacing Tanah (CASTING). 

 


Komentar